Kamis, 27 November 2008

Ketika Cinta Bertasbih


Di matanya, Alexandria sore ini tampak begitu
indah. Ia memandang ke arah pantai. Ombaknya berbuih
putih. Bergelombang naik turun. Berkejar kejaran
menampakkan keriangan yang sangat menawan. Sernilir
angin mengalirkan kesejukan. Suara desaunya benar benar
terasa seumpama desau suara zikir alam yang
menciptakan suasana tenteram.
Sesungguhnya bukan semata-mata cuaca dan suasana
menjelang musim semi yang membuat Alexandria senja
itu begitu memesona. Bukan semata-mata sihir matahari
senja yang membuat Alexandria begitu menakjubkan.
Bukan semata-mata pasir putihnya yang bersih yang
Membuat Alexandria begitu menawan. Akan tetapi, lebih
dari itu, yang membuat segala yang dipandangnya
tampak menakjubkan adalah karena musim semi sedang
bertandang di hatinya. Matahari kebahagiaan sedang
bersinar terang di sana. Bungabunga kesturi sedang
menebar wanginya. Tembangtembang cinta mengalun di
dalam hatinya, memperdengarkan irama terindahnya.

Bintang...

Dalam kegelisahan digelap malam


ku coba singkirkan keraguan
ku coba singkirkan rasa tak percaya
ku coba pastikan langkah

antara temaram baru
antara dalamnya cintamu
antara ketulusan hatimu

kau semakin nyata...

dalam sepinya hidup
dalam kemelutnya hari-hari
kau sanggup membuka tabir
mengangkatku dalam bahagia

remang purnama jadi saksi
biasan sinar menerangi jejakku

ku cari arah...
tuk seiring dan sejalan

bersama mengubah dunia
menjadi surga

Rabu, 26 November 2008

Dalam Gelapnya Malam... (November 24th)


Senin malam, kemarin…
Langit menjatuhkan sepi pada tidurku yang nisbi
Tragedi selaksa nyata menghancurkan mimpi
Seketika terfana,
Melihat nyata dan aku merasa, gamang sgalaku..!!!

Tersentak diri lemahlah aku...
Masih ku merasa,di sekian detik lalu...
Angin menyulam damai dawai asmara,
Bersenandung lagu syahdu cinta dan rindu

Aku bingung, meraba hasrat...
“Senang atau sakitkah Aku..?!”
Dan aku masih saja bingung…
“Tertawa atau menangiskah aku, haruskah..?!”
Entah, yang ku rasa hanyalah…
Separuh nafasku hilang, sayapku terbang...
Ku tak inginkan lagi,
Semampu aku coba tuk menghapus semua mimpi.

Tapi…
Tiada terperi aku disini...
Di tengah gelap malam yang sepi...
Sendiri, Duduk terdiam pucat pasi
Melintaslah sudah malam yang sara tanpa sebuah jawab pasti.
Malam tersenyum dan entah untuk siapa, aku semakin sunyi…

Sayang...
Ternyata masih dirimu yang aku simpan,
Lepaslah sudah ku termenung menyesapi.

Hingga…
Separuh nafas, seketika hadir kembali...............
Kau pertanyakan rasa itu
Seperti turun dari langit,
Kau melayang menembus awan...
Menyesak coba meraihku,

Diantaraku kau tumpahkan perasaan penuh cinta,
Panas bergelora...


Mengapa sembunyi…

Mengapa ingkari…
Betapa tlah kau pahat malam dengan angan-angan
Kau ukir gelap dengan bayang-bayang
Kau yakinkan aku...

Nun jauh hasrat meluluhkan, melambungkan jiwaku,

Kau rangkai mimpi dengan segala keindahan yang tersaji...
Mata menatap tajam, menyelami sgala ruang hati,
Tatapmu tatapku, berkaca membaca coba meyakini...

Ya........
Luluh lantak sudah tebing itu hancur,
Selaksa rantai putus jatuh berurai...

Kau runtuhkan dinding keangkuhanku,
Gentar segalaku mendengar bisik suaramu,
Berjuta warna kau alirkan dalam sungai cintaku...

Engkau...
Percikkan rasa selaksa indahnya surga dan langit biru

Kau, Aku, adalah satu...
Bersama mengecap anggur berbunga rasa haru...


Ah........................

Gelap menghilang, malam pun berlalu
Gelap meregang, disini kita kembali dan tetap bersatu

Bahagia berdiri dalam pengabadian yang rela
Kau dan aku...
Kau dan aku...
Dan hanya engkau dan aku......
Dalam kesetiaan yang nyata, untuk sebuah cinta ....................................................


Elang Luka Parahzia - Isma Dielsa

Selasa, 25 November 2008

KASIH PADA BINTANG

Dekapkan pada hati, rumput-rumputmu, gunung-gunung mu
Tuang dan basuh muka dengan linang embunmu
Nyaman air, tercuci kaki berderai kerikil kali
Lebih indah dari impian, kenyataan diluar impian
Musik-musik abadi terekam pada pohonan, burung-burung dan gerciknya air
Cat-cat tak pernah dusta tersapu tangan–tangan mulia
Tangan yang lunak dan lembut penuh sayang dan cinta
Tangan-tangan alam raya, teduh dan nikmat
Tangan-tangan alam semesta, alam tempat kita berlindung
Tempat kita bertumpu
Tempat kita berumah
Memadu cinta
Alam tempat Kasih yang menuang teh buat sang Bintang
Alam tempat bermai-main, berlari dan berguling
alam tempat melindungi hak, kolam yang adil, tempat ikan berenang
Alam tempat tamasya dan bergembira
Alam tempat bekerja, Alam tempat berjuang
Alam tempat segala-galanya
Dan tempat untuk pertama kalinya membilang: Aku cinta !
Berilah mesin pada alam, berilah otak pada alam
Berilah hati pada alam, hati yang bening dan lembut
Berilah segalanya, daya upaya manusia, daya mullia dan bijaksana

Demi alam, alam yang murni
Berbondong- bondongah dari Timur, dari Barat
Utara dan Selatan
Tangan- tangan yang mengepal tinju terjulur ke Utara
Bagai bunga- bunga kuncup, meledak oleh sinar- sinar matahari pagi

Sinar terang dan nyaman, sinar yang tak pernah dusta
Sinar yang mengandung muatan, sinar yang membangkit kerja
Sinar segar dan sehat, sinar yang sepi penyakit
Sinar yang memberi semangat, sinar otot- otot kuat
Sinar gemuk dan makmur, sinar yang memberi santapan pada perut lapar
Sinar- sinar keluarga, sinar Kasih pada Bintang, sinar yang memberi
Terang pada purnama
Dekapkan…
dekapkan pada hati
Rumput hijaumu
Gunung birumu
Dan langitmu untuk surga

Senin, 24 November 2008

Wujudmu Wujudku


Lahirku bagai lembar putih tanpa noda

Waktu ada...bagai pedang pemburu tanpa kemudi

Kita berwujud pada siapa…

Kugadaikan hidup untukmu

Kutaruh cinta pada sunyi

Kutebarkan hati tanpa batas

Ku iris rasa lewat senyum

Hadirkan diriku disini

Tanpa aku…

Aku ada seperti apa…

angin menghadang menerpa air

Gelombang menggelinding memecah karang

Gunung meletus lumatkan bumi

Kita berada untuk kemana

Burung merak putih kepakkan sayapmu

Tebarkan rasa tanpa asa

Terbang menembus tujuh langit

Mengguncang bumi seisinya

Seutas senyum bersama Nur Rokhul Qudus

Kalimat kesaksian tanpa luput dari jiwa

Bersandingkan cinta Illahi Robbi

Kau kuak labirin hijab

Meraih bahagia cinta sejati

Tetesan air sucimu

Melunakkan api siksa

Menghadap keagungan sejati

Burung merak putih

Jiwa tenang sejukkan dunia

Membelai hari-hari dengan abadi

Merajut cakrawala cinta tanpa wujud

Karena wujudmu satu denganku

D I K E A B A D I A N K U

Aku adalah burung yang terbang dimusim gugur untuk mencari daerah yang lebih hangat. Menciumi sang surya, udara, embun dan awan-awan putih.

Aku adalah burung yang sayapnya lelah, lalu bertengger di dahan rapuh.

Wajahku kusut..

Tak mengerti,

Tak habis aku berpikir

Merasa…

Merenung…

Dalam diam

Dalam kata

Tak habis kutelusuri bianglala dunia

Selalu kutemui

Tak mengerti,

Aku…

Tak mengerti.

Aku adalah camar yang lepas

Terbang diatas lautan luas

Menukik tajam menyesap air laut

Menerjang badai terkapar diatas karang

Ku biarkan air laut menyesah tubuhku

Dan aku terbang kembali tanpa basah

Mencari misteri

Misteri yang kutemui hari ini

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan tulus, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada langit yang menjadikannya hujan

Rabu, 19 November 2008

perjalanan..................................


Sepenggal kisah episode perjalanan kelabu, katakanlah kejujuran itu walau sepahit apapun. Ada keraguan menyeruak nurani ketika aku bertanya, “Apa sebenarnya yang kucari?”. Lima tahun sudah aku menapaki hidup yang berdimensi asing buatku. Dinamika hidup yang kualami menyeretku dan langkahku dalam ruang yang samar nyaris gulita. Aku coba menjalani dengan tanpa banyak Tanya, karena rantai besi merantai langkahku.
Aku dituntut untuk setia, aku harus mengerti arti satu uluran tangan dan akupun harus berkorban untuk sebuah yang menurutnya juga pengorbana, apapun bentuknya jiwaku seperti terbelah.
Ketika realita menunjukkan pergeseran nilai hidup, aku tak kuasa menolaknya, karena aku tak berkuasa. Fatamorgana yang kau tawarkan sesaat begitu manis aku rasakan, memang sempat menikmatinya namun nuraniku membantahnya. Sementara itusisi hatiku menjamah dunia yang lain, sebentuk kesadaran memukul-mukul pintu dan setiap bilik didadaku sehingga rongganya begitu sesak oleh sesal. Aku terpuruk, tercampak dalam ruang waktu yang tak tentu. Begitu kosong….tak bermakna…jiwaku hampa, nuraniku kering bak kemarau yang kering kerontang. Aku menggigilldalam dinginyang membekukan tulang-tulang, sepi yang panjang mengurung hasrat hingga ketepian, sedangkan penggambaran tak mungkin berhenti kecuali azal yang menghampiri.
Pencarian yang tak berujung itu harus terus aku lalui meskipun matahari tak sanggup menaklukkan bulan aku harus terus bertahan. Setidaknya aku bias berdiri sejajar dengan matahari meski aku harus meminjam tangannya. Tanganmu dan tangan-tangan yang lain mengulur kearahku untuk melewati titian yang curam itu. Aku bahkan rela melepas bajuku, aku telanjang dalam lilitan asa yang mencekam, aku kehilangan jati diri.
Tetapi itu semua hanyalah bohong belaka, bohong semua…hanyalah sia-sia halusinasi belaka yang ada hanyalah setumpuk dusta yang terpasak selama ribuan tahun, perjalanan batin yang melelahkan, kemerdekaanku tenggelam dalam lautan kasih yang tak kumengerti.
Ketika aku jujur dan bercermin pada sisa-sisa malam yang tersisa hanyalah lelah dan resah yang berkepanjangan bahkan ketika pagi menjemput matahari….aku slalu tertinggal karena langkahku selalu kau pagari dan ketika nyaris tak bernafas karena terlalu lama tertekan, aku mencoba setia pada sujudku yang mulai menua. Aku mengurai pintu agar pelitaku menyala, terangi langkahku agar satu jalan lurus.
Aku menunggu dalam kian hingga sesaat aku tengadah kua tiba-tiba membuka belenggu itu, meski kau membukanya dengan membelah dadaku. Sakit…memang…tapi aku memberinya senyum seolah kemenangan…bulan, matahari dan bintang-bintang setia menemani mega dilangit.
Untuk matahariku….
Aku mencintaimu dengan segala apa yang ada

AKU..................................


Dihari panas ini aku adalah pipit kecil yang mencoba mengepakkan sayapnya sendirian, jauh dari sarangnya yang hangat dari pelukan induknya yang menyenangkan. Mencoba mencari hakikat kehidupan dengan berjuta penasaran bersarang diatas kepala.
Pagi menyeret malam, pergi dari singgasana. Sinar matahari menyelusup ke dalam kamarku dari genting kaca, diantara cahaya ada butiran-butiran debu yang bagikuseakan-akan lengkungan bianglala berwarna-warni. Waktu kecil dulu akuselalu bermimpi aka nada seseorang yang sangat baik meluncur dari bianglala itu lalu membawaku pergi ke negeri impian, tempat dimana tidak ada kesusahan.
Pagi masih mengembun, malam masih enggan meninggalkan singgasananya, kuamati titik-titik embun dipermukaan daun-daun melati dibawah jendela kamarku, bening seperti kristal. Jika ada surya kanta pasti wajahku dengan mata masih menyipit karena mengantuk, terpampang disitu.
Kematian…
Datang diam…
Berbalut sunyi…
Sisakan kepedihan, bagi sebagian
Sisakan kelegaan bagi yang lain
Datang diam…
Berbalut sepi…
Dingin…

Minggu, 16 November 2008

Cinta.................


Kau segala-galanya bagiku

Mentari yang bersinar di atas, kau buat burung-burung biru bernyanyi ,

Bintang-bintang yang berkerlip jauh di angkasa

Katakanlah aku cinta kau..

Bila kucium bibirmu, terasa guntur berdebur hingga di ujung jari-jemariku

Dan sementara aku terbingung, jauh tenggelam dalam cintamu

Tiada apapun yang berarti kecuali cintamu yang kau beri,

Menatapmu di pagi hari dengan mata coklat jernih

Lebih dari selama-lamanya kubutuh kau di sisiku

Kau tak perlu kuatir, tak usah takut karenanya...

Kupandang bumi dan kupandang langit di atas

Aku menyelam dalam lautnya, manisnya, pahitnya dan hangatnya cinta

Walau baday terus menerpaku...

Bila aku mendekapmu

Tiada satupun yang dapat mengusik kita di malam sepi

Kau kan datang dan menjagaku tentram dan hangat

I’M YOURS

I’M YOURS

Well you done done me and you bet I felt it
I tried to be chill but you’re so hot that I melted
I fell right through the cracks
and now I’m trying to get back
Before the cool done run out
I’ll be giving it my bestest
Nothing’s going to stop me but divine intervention
I reckon its again my turn to win some or learn some

I won’t hesitate no more, no more
It cannot wait, I’m yours

Well open up your mind and see like me
Open up your plans and damn you’re free
Look into your heart and you’ll find love love love
Listen to the music of the moment maybe sing with me
Ah, la peaceful melodys
It’s your God-forsaken right to be loved love loved love love

So I won’t hesitate no more, no more
It cannot wait I’m sure
There’s no need to complicate
Our time is short
This is our fate, I’m yours

I’ve been spending way too long checking my tongue in the mirror
And bending over backwards just to try to see it clearer
But my breath fogged up the glass
And so I drew a new face and laughed
I guess what I’m saying is there ain’t no better reason
To rid yourself of vanity and just go with the seasons
It’s what we aim to do
Our name is our virtue

I won’t hesitate no more, no more
It cannot wait I’m sure
There’s no need to complicate
Our time is short
This is our fate, I’m yours

Well no no, well open up your mind and see like me
Open up your plans and damn you’re free
Look into your heart and you’ll find love love love love
Listen to the music of the moment come and dance with me
ah, la one big family (2nd time: ah, la happy family)
It’s your God-forsaken right to be loved love love love

I won’t hesitate no more
Oh no more no more no more
It’s your God-forsaken right to be loved, I’m sure
Theres no need to complicate
Our time is short
This is our fate, I’m yours

No I won’t hesitate no more, no more
This cannot wait I’m sure
There’s no need to complicate
Our time is short
This is our fate, I’m yours, I’m yours