Rabu, 19 November 2008

perjalanan..................................


Sepenggal kisah episode perjalanan kelabu, katakanlah kejujuran itu walau sepahit apapun. Ada keraguan menyeruak nurani ketika aku bertanya, “Apa sebenarnya yang kucari?”. Lima tahun sudah aku menapaki hidup yang berdimensi asing buatku. Dinamika hidup yang kualami menyeretku dan langkahku dalam ruang yang samar nyaris gulita. Aku coba menjalani dengan tanpa banyak Tanya, karena rantai besi merantai langkahku.
Aku dituntut untuk setia, aku harus mengerti arti satu uluran tangan dan akupun harus berkorban untuk sebuah yang menurutnya juga pengorbana, apapun bentuknya jiwaku seperti terbelah.
Ketika realita menunjukkan pergeseran nilai hidup, aku tak kuasa menolaknya, karena aku tak berkuasa. Fatamorgana yang kau tawarkan sesaat begitu manis aku rasakan, memang sempat menikmatinya namun nuraniku membantahnya. Sementara itusisi hatiku menjamah dunia yang lain, sebentuk kesadaran memukul-mukul pintu dan setiap bilik didadaku sehingga rongganya begitu sesak oleh sesal. Aku terpuruk, tercampak dalam ruang waktu yang tak tentu. Begitu kosong….tak bermakna…jiwaku hampa, nuraniku kering bak kemarau yang kering kerontang. Aku menggigilldalam dinginyang membekukan tulang-tulang, sepi yang panjang mengurung hasrat hingga ketepian, sedangkan penggambaran tak mungkin berhenti kecuali azal yang menghampiri.
Pencarian yang tak berujung itu harus terus aku lalui meskipun matahari tak sanggup menaklukkan bulan aku harus terus bertahan. Setidaknya aku bias berdiri sejajar dengan matahari meski aku harus meminjam tangannya. Tanganmu dan tangan-tangan yang lain mengulur kearahku untuk melewati titian yang curam itu. Aku bahkan rela melepas bajuku, aku telanjang dalam lilitan asa yang mencekam, aku kehilangan jati diri.
Tetapi itu semua hanyalah bohong belaka, bohong semua…hanyalah sia-sia halusinasi belaka yang ada hanyalah setumpuk dusta yang terpasak selama ribuan tahun, perjalanan batin yang melelahkan, kemerdekaanku tenggelam dalam lautan kasih yang tak kumengerti.
Ketika aku jujur dan bercermin pada sisa-sisa malam yang tersisa hanyalah lelah dan resah yang berkepanjangan bahkan ketika pagi menjemput matahari….aku slalu tertinggal karena langkahku selalu kau pagari dan ketika nyaris tak bernafas karena terlalu lama tertekan, aku mencoba setia pada sujudku yang mulai menua. Aku mengurai pintu agar pelitaku menyala, terangi langkahku agar satu jalan lurus.
Aku menunggu dalam kian hingga sesaat aku tengadah kua tiba-tiba membuka belenggu itu, meski kau membukanya dengan membelah dadaku. Sakit…memang…tapi aku memberinya senyum seolah kemenangan…bulan, matahari dan bintang-bintang setia menemani mega dilangit.
Untuk matahariku….
Aku mencintaimu dengan segala apa yang ada

1 komentar:

Abu Hasna mengatakan...

saya suka tutur kayanya.

salam kenal. kalau ada waktu mampirlah ke blog saya : http://mthalhah.blogspot.com/