Senin, 01 Desember 2008

SAAT SANG FAJAR MENYAPA



Gerbang pagi telah terbuka, tanda hari baru kan melintas buana. Sekejap…kubuka jendela, terdengan disana kicauan burung menyambut surya. Kuisi dadaku dengan udara pagi yang segar dan memelukku mesra.
Sementara dalam hatiku bertanya” Apakah esok hari kau tetap ada?” …” Akankah kau tetap disana?” Hilangkan kecemasan yang mencekam diri hamparan hatiku begitu tenang, sejenak…membuat terpana dan tenggelam. Pandanganmu begitu berseri tapi hingga kini kau masih tetap mistery yang selalu menemaniki disini.
Burung bernyanyi alampun berseri, salamku untukmu…temanilah aku disini. Aku yang masih terdiam dan terpaku oleh suasana hati.
Semilir angin yang membelai lembut dipipi menyapa selamat pagi. Sepintas kulihat bayanganmu dengan segala rasa cinta dan nista menjadi satu dibawah tatapan sinar bola matamu, tapi kuanggap bukan apa-apa hingga kumerasa diriku penuh dengan noda dan nista.
Aku tak beranjak dari bilik jendela kamarku, sampai kumerasa tersentak oleh suara musik. Kucoba menepis lamunan dan kekaguman diriku padamu yang tak pernah dapat kusembunyikan. Selama ini ku mencoba menghalau semua perasaan itu dan mencoba membunuh semua rasa itu.
Ketika Matahari merekah dari timur buana, memecah rasa gelisah dengan perasaan yang kecil hati kuucapkan salam untukmu. Biarkanlah aku memandang dirimu dengan selalu mengingat dirimu dan juga biarkanlah kusisipkan hati dan cintaku untukmu. Simpanlah didasar dan lubuk hatimu.
Kuucap salam dengan penuh rasa haru yang mendalam…

Tidak ada komentar: