Senja ini terkapar diterpa temaram kelam. Entah aku harus bagaimana…? Harus apa…? Tapi yang aku rasa perih itu hadir tiba-tiba. Nyatakah ini…? Atau…aku masih bermimpi?!
Kususuri tanah setapak untuk sebuah jawab tapi tetap kurasa senyap. Suasana sepi kini menambah hening hati ini, namun waktu itu telah di usik keegoan. Entah untuk siapa?!
Kutangkap makna walau salah. Kau ingin aku menyalahkan diri, kau bentuk diriku bagai lilin yang terbakar oleh kekhilapanku.
Murka…kalap…apa sebab? Adakah mungkin untukku menghindari goresan kasih lukai hati? Jiwaku kembali resah antara kecewa atau bahagia.
Cukup…! Jiwa ini ditimpa kepayahan…sakit…kecemasan dan kepiluan sampai sembilu itu menghunus kalbu.
Dapatkah kita lanjutkan cerita ini…? Apakah merupakan nyata yang pasti? Ya….pasti?!
Aku berusaha menjadi bayanganmu dan begitupun dirimu menjadi bayanganku. Aku tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit seperti yang kau harap, ku coba menjadi belukar di tepi danau, tapi…tetap terpuruk. Aku hanya mampu menjadi rumput di tanggul pinggiran jalan, kucoba cari jalan setapak tuk kembali ke hulu.
Paham…pahami diriku…pahami dirimu…?!
Naifkah jiwa ini??????
Langkahku kembali tapaki tanah walau merah. Tiada ranting yang rimbun, hanya dedaunan kering berguguran. Tiada titik embun turun, hanya gersang berdebu. Ironis…ditengah deras hujangan tetes air langit, kemarau hatiku kini.
Tiada pohon rindang tuk berteduh, kering sudah air mataku, suara hati membisu. Cintaku terasa sendu…mungkinkah kasih datang mengalun mengusir sepi…?!
Rindu menangis
Kalbu merasa
Antara derita yang mengisahkan kita
Senduku berseru
Mengukir dalamnya hatiku
Sebening telaga
Sebersih awan tak tercela
Cinta…
Ku…menghambakan diri padamu.