Kucari secercah sinar dalam kekuatan berjuta warna. Sesaat malam resah mulai mengibarkan sayapnya ke penjuru bumi.
Kucoba temani dia…bayangan malam yang terluka, masih saja samar yang menyambar.kucoba berjalan di dalam hujan tuk mencari api yang hamper terpendam…tapi masih saja gelap gulita.
Kupijak nyata tuk mencapai bintang dilangit, kuselami dia dengan arus tangis tertawa. Ada apa gerangan…?!
Perih…
selaksa siksa…
dia kembali bersarang….
Ya…siksa ini?
Benci…sungguh aku benci. Mengapa rasa ini hadir kembali mengoyak jiwa. Ku tak lagi berdaya menahan letihnya raga. Linangan duka mencakar ditimbunan rasa. Aku tak sanggup mengakui…ku hanya menjerit tanpa suara.
Malam yang ku dekap telah ternodai. Luka telah mengalirkan darah tanpa warna.
Ingin ku sentuh bayang dirimu walau seketika, agar hilang rindu dahaga. Tapi…nyatanya rindu tenggelam berselubung pilu. Rindu membuai derita di penghujung alam semesta.
Kupejamkan mata dan biarkan tenggelam dalam hangatnya asmara. Masihkah terawat lafaz sendu yang terindah….?
Ketika sang bayu mencium pipi mengiringi fajar yang bertiup membisikan cinta yang tak bermaya, aku tersentak…
Ah…………..ku tak ingin lagi rasakan itu.
Rasa bagai kabut yang menutupi tabir keindahan cinta dihamparan permadani hijau kebiruan.
Rasa yang membekukan jiwa meratapi raga.
Rasa yang menghadirkan kilatan petir membelah langit memecah sunyi.
Tepiskan…!
Kuburkan…!
Seabad kerinduan sesaat telah aku lupakan. Cinta suci terhimpun mencekam dihati tuk meniti tabir kehidupan. Jiwa menjulang kasih murni cinta suci mewangi sewangi kasturi. Sejuk embun merangkul meredam rasa.
Kasihku damai bersama bintang
Rabu, 03 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar