Senin, 31 Mei 2010

Senjaku...

Mencoba mngepak sayap mengitari bumi
Menyibak kabut di pagi
Dirangka sayapku yang patah
Melawan badai senja hitam
Dijiwa yang tersayat oleh rasa
Melawan siksa diruang cinta
Dijantung yang terhiris sembilu
Hingga aku terkapar
Tersadar...
Aku...telah mati

Jumat, 20 November 2009

Dalam Bintang Kasihmu

...dan ketika lelah dan semangat patah,
aku terhenti oleh kerikil – kerikil terlampau tajam
hingga akhir aku memilih jeda!!!
kau tetap ada di sana…
memberiku isyarat untuk tetap bertahan

Mencoba membasuh kesedihan, kehampaan dan ketidakberdayaan
kelembutan menembus dinding-dinding kalbuku
Menghancurleburkan segala keangkuhan
Meluluhkan semua kelelahan dan beban
Menjadi penyangga kerapuhanku
Dan membiarkannya tenang terhanyut bersama kedalaman hati

Risalah Hati





Mungkin aku berencana pergi,
seperti nafas yang terlepas
tinggalkan dunia keindahan
kemanisan dalam pelangi

sesaat benar-benar harus pergi
Ingat kesetian
langit pada bintang

Mungkin aku tengah kalap dalam gelap
Tetapi ingat malam-malam
dalam kata kemesraan

Kerinduan...
Wajah yang melekat dalam dada

Aku melerai kehampaan
Penuh dengan nestapa yang telah kurasakan sebelumnya
tapi tiada semacam ini

Sang bintang penuntun pada cinta
Jiwa membantu sumber ilham
Ternyata ku perlu keanggunan
lebih dari yang kupikirkan

Kamis, 08 Oktober 2009

...sahabat senja

Aku berjalan menuju titik semu...

Cakrawala senja hitam membahana awan.
Memisahkan langit pada bumi,
menutup bianglala yang kutulis.

Diam...
Senyap...
Ku hirup nafas sepimu,
dan menukarnya dengan senyum manis untukmu.

Berbahagialah.

Sabtu, 03 Oktober 2009

...bianglala

Diambang jingga fajar,
kala kerinduan menapaki rasa.

Bagaimana harus kusapa,
saat ku tahu bintang bersuka.
Bagaimana harus kusentuh,
saat bercumbu dengan malamnya.

Ku coba merangkul siluet,
dari sisa cahaya lalu,
dari selimut jiwa,
yang tak lagi sempurna.

Kamis, 01 Oktober 2009

Untuk Segalamu Bintang

Di beranda
....Menjelang senja

Tabir yang berkibar tlah tersingkap nyata.
Tatkala aku menangkap bayang wajahmu.
Detik itu, seketika jiwa tahu.
Raga yang terbelah mengembara,
tlah menemukan serpihnya.

Ingin ku ungkap semua kata.

Betapa bahagia harimu.
Pagi telah kau dapati dimuka jendela.
Melambai mawarmu meneteskan embun terakhir.
Sang fajar telah datang menghampiri,
dan melambai lembut dengan juluran lidah-lidah cahayanya.

Dapat kubayangkan,
betapa segalamu lebih indah.
Labirin-labirin hatimu telah tersenyum.
Pahatan sang jiwa tlah terhapus.
Terukir indah bianglala dikaki langitmu.

Sempurna...!

Sabtu, 26 September 2009

...dan biarkan lelapku

Biarkan lelahku terbaring,
kerana jiwa ini telah dirasuki cinta,
dan biarkan raga terlelap,
kerana batin ini memiliki segala Bintang malam dan Kasih siang.
Mainkan dawai-dawai syairmu dan singkapkan tabir lara hatiku.
Nyanyikanlah keindahan lalu seperti Bintang menyapa fajar dalam kelopak mataku,
kerana makna bahagia begitu lembut bagai mahkota hatiku.
Tahanlah nafasmu,
temani Jasadku,
dan biarkan kudengar kibaran kepak sayap-sayapmu.
Dekatilah aku, dan ucapkanlah cinta buatku.
Ciumlah mataku dengan seulas senyummu.