Minggu, 22 Februari 2009

Prolog sang malam


Jalan setapak itu membentang sejauh bukit pasir, dan disambung jalan setapak yang lebih tinggi. Yang dibuat dari lempengan kayu yang telah diterpa cuaca. Dihadapanku, jalan itu melebar menjadi jalur landai yang luasnya persis dua setengah meter persegi. Aku berhenti dan menari tuas rem kursi roda.

Pantai yang sunyi membentang dihadapanku. Dataran tidak tampak. Pantai itu kelihatan sepurba saat pertama dibentuk dulu. Bulan dikaburkan oleh selubung awan pekat, namun memancarkan cahaya cukup terang untuk melihat ombak yang pecah. Bulan meninggalkan sisa-sisa cahaya keperakan yang berkedip singkat sebelum terserap oleh pasir. Anginnnya sehalus hembusan nafas bayi yang terlelap, dan satu-satunya bunyi adalah deru keras air pasang.

Tidak ada komentar: