Lihatlah... sebab siksa yang bertaburan, batu dan ilalang tak lagi hadir di tanah ini lalu... kemana semua warna? yang pernah ku simpan dalam bayang-bayang bulan
di tepi kerinduan ini semua keheningan menjadi dahaga jiwa mengambang dalam batas yang tak tercapai. kehampaan dalam hati yang tak tergapai.
Sejak purnama yang membisu
kalbu ini terbelai rindu
ketika tengadah pada bintang-bintang
aku tahu, saat itu mungkin kau sedang merinduku
Kasih…
Disini aku sendiri
mencoba merangkul sunyi
dari sisa sinar yang kumiliki
dari penghangat jiwa yang membungkusku tak sempurna
semuanya kunikmati saja
berusaha untuk setia pada kata
yang terucap di detik malam lalu
dalam mimpi yang terus kubangun
mengingat bayangmu yang jauh
pada waktu yang kian sempit
dadaku nyaris terbelah
perih melolong sengit
rinduku membuncah
merobek langit
kutitip rindu
pada nyanyian angin sendu
agar hati tak kian pilu
aku menguntai benang-benang hikmah
adakah diriku atau dirimu kah sebenarnya yang bercahaya?
fana dan hina yang menusuk-nusuk jiwa
kekerdilan sang hamba diantara lautan cahaya disekitarnya
hingga mungkin aku tenggelam karena tak bisa menjadi buihmu
aku tenggelam di dasar dimana cahaya tak bisa menembusmu
perlahan aku menjangkau hatimu
tuk memulai sebuah kehidupan baru
Ribuan kali kutulis tentang cinta, Diragaku… Dijiwaku… Masih saja kau anggap misteri Walau kelak semua kutulis sejuta kali Kau tetap dibalut sepi …rindu adalah tidurku malam ini Yang terbantai…