Jumat, 15 Mei 2009
Bingkai diambang pajar
Ketika langit memerah saga
Ku telah mengalamatkan
Rindu ini pada senja
Cinta ini pada raga
Pada hamparan gulita di ujung malam
Biarkan saja subuh menyapanya
Tiba derunya kau dengar gelora rasa
Diambang jingga pajar
Letihku terbingkai siksa
Sesaat selaksa belenggu
Menghimpit jiwa
Lirih bisikmu
Kasihmu
Sebuah rasa tak terabaikan
Setitik asa tak terlampiaskan
Pada detak jantung
Kau terabadikan
Sabtu, 09 Mei 2009
Mistery malam buat Sang Raga
Bergetar hatiku amat hebat, berdebar kencang tak menentu saat pumbuluh menyempit, aliran darah menjadi begitu kencang, mengguncang nadi. Tuhan, mengapa ini kembali terjadi?
Tekadang kepenatan menghimpitku, Kadang aku menjadi begitu lelah, terutama dalam menata hati.
Bukan hanya perasaan cinta yang harus kutahan agar tak menggebu, atau perasaan sedih yang harus ku urai agar tak menyepi aku dalam lubang hitam pekat tak bermassa. Banyak hal yang masih tak kumengerti tentang rasa, tentang emosi, dan tentang jiwa. Waktu ternyata belum cukup bagiku memetakan sifat-sifat dasar manusia.
Lelah, aku begitu lelah. Ingin berbaring sejenak untuk melepas penat, namun rasanya akan sangat sulit. Berbaring hibernasi puluhan abad pun tetap tak akan mampu mengangkat rasa letih ini. Rasa yang begitu membuatku menghela nafas panjang.
Diri ini letih sekarang menghinggapiku. Membuatku seujung kuku daripada batas menjadi gila. Sungguh, aku kelelahan.
Namun ada satu yang kusadari, aku terlalu dalam menyimpan perasaan beku hatiku ini. Hingga pagi menjelang, aku mencoba untuk lepas tertawa namun rasanya hatiku ini sesak.
Langkahku seakan terhenti seketika. Haruskah terus berjalan, melangkah menuju puncak langit. Menuju gelap langit yang tak biru akibat bias lautan, menuju langit hampa dengan hamparan bintang tanpa bingkai bumi yang mengkotakkan. Langit sebenar-benar langit.

